Panjaitan XVI

Album Keluarga

Album Keluarga
Media untuk menyampaikan Aspirasi, Cerita, Tulisan, Pendapat, Diskusi,Renungan, Gambar dan Peristiwa
Tampilkan postingan dengan label Tentang Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Jokowi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Maret 2014

Jokowi akan Beri Teladan bila Mundur dari Gubernur DKI Jakarta

Jokowi akan Beri Teladan bila Mundur dari Gubernur DKI Jakarta

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktivis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Projo meyakini Joko Widodo akan memberi contoh yang baik bagi lahirnya kepemimpinan baru di Indonesia bila memutuskan mundur dari jabatan Gubernur DKI Jakarta.
Di tengah minimnya teladan kepemimpinan, PDIP Projo menilai berhentinya Jokowi sebagai Gubernur DKI, akan memberikan inspirasi positif bagi lahirnya kepemimpinan baru di Indonesia.   
     
"Peraturannya memang tidak mengharuskan berhenti. Tapi ini soal etis. Ketika  soal etis dan kepatutan, maka ada sebuah pencapaian yang melebihi kalkulasi politik praktis," ujar Budi Arie Setiadi, Koordinator Nasional PDIP Projo kepada Tribunnews,  Kamis (20/3/2014).                   
Menurut Budi, saat ini minim sekali tokoh yang mampu memberi keteladanan sebagai pemimpin bangsa. Berbeda kondisi dengan awal kemerdekaan, pendiri bangsa telah banyak mewariskan keteladanan. Oleh sebab itu, menurut Budi lahirnya pemimpin baru harus menghasilkan banyak inspirasi dan semangat baru.
"Jokowi telah memberi teladan tentang apa artinya pemimpin yang sederhana dan melayani. Berhentinya Jokowi sebagai Gubernur DKI akan membuktikan bahwa kekuasaan dan jabatan bukanlah segala-galanya. Mengabdi rakyat dan republik adalah tugas mulia melebihi kepentingan pribadi dan kelompok," tambah mantan Wakil Ketua DPD PDI DKI ini.                  
                                   
"Seperti pidato Bung Karno, Karmane Fardikaratse Mappalesu Kadyatana, (laksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya dan setulus-tulusnya), Maka berhentinya Jokowi sebagai Gubernur akan menghasilkan kepemimpinan yang memiliki Jiwa Pengabdian sebagai intisari dari  Dedication of Life," pungkas mantan Aktivis UI 98 ini.

Disindir lewat sajak, Jokowi tantang Prabowo adu program

Calon Presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo. Foto: Antara/Dhoni Setiawan

MERDEKA.COM. Bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) tidak ingin membalas sajak yang yang dibuat bakal calon presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto. Menurutnya, lebih penting jika antar capres saling mengadu program-program.

"Akan lebih bagus kalau menyampaikan gagasan program-program untuk kebaikan bangsa, enggak perlu menjelekkan," kata Jokowi di saat blusukan di Kampung Deret Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Selasa (25/3).

Jokowi mengungkapkan, sebaiknya dalam berkampanye menggunakan cara yang santun, karena tidak semua manusia itu selalu benar. Tetap memiliki sisi buruk yang tidak ingin diketahui orang lain.

"Belum tentu yang dijelekan itu bagus," tandasnya.

Seperti diketahui, Prabowo dalam kampanye akbar di Gelora Bung Karno membacakan sajak sindiran. Prabowo menyebut pantun tersebut ditujukan ke seseorang yang tidak disebutkan namanya.

"Boleh bohong asal santun. Boleh nipu asal santun. Boleh ingkar janji asal santun. Boleh menyerahkan kedaulatan asal santun," kata Prabowo membacakan sajaknya.
Sumber: Merdeka.com

Senin, 24 Maret 2014

Masuk 50 pemimpin hebat versi Fortune, Jokowi kalahkan Obama

Masuk 50 pemimpin hebat versi Fortune, Jokowi kalahkan Obama
Merdeka.com - Majalah Fortune mengeluarkan daftar 50 pemimpin paling hebat di dunia. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ada dalam daftar tersebut, menempati posisi nomor 37.

Malah Presiden Amerika Serikat Barack Obama gagal masuk dalam list tersebut. Majalah Fortune menilai Obama kalah bersaing dengan para tokoh lainnya.

"Presiden Obama tidak dikeluarkan dari list pemimpin terhebat. Tapi dia gagal masuk kriteria Fortune tahun ini jika dibandingkan dengan para pemimpin dari berbagai negara yang menunjukkan sejarah panjang kepemimpinan," demikian pernyataan majalah Fortune.

Belum ada komentar dari Obama atau Gedung Putih mengenai hal ini.

Uniknya Kantor Berita Inggris BBC pernah menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta.

"Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama , bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat."

"Saya bukan Obama . Saya cuma orang yang sederhana," kata Jokowi sambil tertawa saat mendengar hal itu dulu.

Berikut peringkat 10 besar dalam list tersebut.

1. Paus Fransiskus

2. Kanselir Jerman Angela Merkel

3. CEO Ford Motor Co. Alan Mulally

4. CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett

5. Mantan Presiden AS Bill Clinton

6. Tokoh demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi

7. Komandan tentara AS di Afganitsan Jenderal Joe Dunford

8. Penyanyi grup band U2 Bono

9. Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama

10. CEO Amazon.com Jeff Bezos
Baca juga:

Minggu, 23 Maret 2014

Jokowi Masuk Daftar 50 Tokoh Besar Dunia Versi Majalah Fortune


Jakarta - Dunia mengakui Jokowi. Salah satu buktinya, Gubernur DKI Jakarta yang kini maju Capres dari PDIP ini masuk daftar 50 tokoh besar dunia versi majalah terkemuka AS, Fortune. Jokowi berada di peringkat 37.

Seperti dikutip dari Money.CNN.com, Senin (24/3/2014) Jokowi yang hanya pengusaha rotan, kemudian menjadi wali kota Solo ini dinilai memiliki prestasi. Selama menjabat Wali Kota Solo, Jokowi dinilai sukses membuat Kota Solo bersih dan menerapkan prinsip antikorupsi.

Pada 2012, Jokowi maju dalam pemilihan Gubernur DKI dan berhasil memenangkannya. Pada 2014, Fortune menulis, Jokowi maju menjadi Capres RI yang pemilihannya pada Juli mendatang.

"Dia paling favorit," tulis Fortune.

Selain nama Jokowi, di daftar itu di peringkat pertama ada Paus Francis, kemudian Angela Merkel, ada juga pialang saham terkemuka AS Warren Buffet, CEO Apple Tim Cook, ada pejuang di bidang pendidikan asal Afghanistan Malala Yousafzai, serta ada juga Aung San Suu Kyi pejuang HAM asal Myanmar.

Sabtu, 22 Maret 2014

Jokowi Pengin Cawapres itu Bukan Ban Serep

TEMPO.CO, Jakarta - Meski masih enggan menyebut nama wakil presiden idamannya, calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo, mengaku mencari pendamping yang bisa diajak bekerja sama secara. Gubernur DKI Jakarta ini menegaskan sosok cawapres ideal harus seimbang dalam menunaikan tugas sehingga tidak hanya menjadi ban serep.(baca: Seperti Apa Cawapres Idaman Jokowi?)

"Saya ingin ke depan bisa bekerja. Bisa saling menutupi kekurangan masing-masing karena kita ingin bekerja. Jadi tidak ada wakil yang dipakai untuk ban serep. Harus kerja keras untuk bangsa negara dan rakyat," kata Jokowi di Bandar Lampung, Jumat, 21 Maret 2014.

Selain itu, Jokowi menyebut calon wakil presidennya nanti harus memiliki kecocokan dengan dirinya. Menurut Jokowi, ini adalah syarat mutlak. Bagi sosok yang kelak mendampinginya. "Kedua, dia harus punya ideologi platform yang sesuai dengan partai," katanya.

Jokowi juga tidak mempermasalahkan apakah cawapres yang dipilih nantinya berasal dari kalangan mililter atau sipil, tua atau muda. Menurut dia, apapun latar belakang sang wapres, ia harus bisa saling melengkapi. (baca: Efek Jokowi, Citra PDIP di Dunia Maya Melambung)

"Saya tidak pernah mendikotonomi, militer, sipil, tua atau muda. Laki-laki atau perempuan. Yang paling penting bisa saling melengkapi," katanya.

Mengenai proses pemilihan wapres, Jokowi mengatakan partai hingga kini masih mengkaji kriteria. Menurut dia, partai nanti akan menyodorkan beberapa nama setelah memfinalisasi kriteria akhir. Berdasarkan pengalaman saat pemilihan gubernur, Jokowi mengaku diminta memilih pendamping setelah calon yang disodorkan partai tersisa tiga orang. "Biasanya dulu waktu gubernur ada pilihan, kemudian tiga terakhir, sudah disuruh milih ke saya. Tidak pernah dipaksa," katanya.

ANANDA TERESIA

Ke Lampung, Jokowi Beli Kaos Kaki

Ke Lampung, Jokowi Beli Kaos Kaki
TEMPO.CO, Bandar Lampung - Calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo, berkampanye ke Bandar Lampung. Pada Jumat malam, 21 Maret 2014, Gubernur DKI Jakarta ini mengunjungi sebuah departemen store di Plaza Sentral, Lampung.

Jokowi menolak jika kedatangannya ke pusat perbelanjaan itu untuk berkampanye. Jokowi mengatakan masuk ke mall cuma untuk membeli beberapa barang yang tak terbawa.

"Ini saya ke sini mau beli kaos kaki dan kemeja putih. Jadi tadi beli kaos kaki tiga sama baju putih satu," katanya di pusat perbelanjaan Plaza Sentral.

Kedatangan Jokowi langsung diserbu pengunjung mall yang hendak berfoto dan bersalaman. Sebelum menuju pusat perbelanjaan itu, Jokowi sempat makan malam di sebuah warung sea food di Pasar Kangkung, Bandar Lampung.

Sabtu pagi, 22 Maret 2014, Jokowi dijadwalkan kampanye di Tulang Bawang.

Kamis, 01 Agustus 2013

Soal Ahok-Lulung, Jokowi: Jangan Dipanas-panasi

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo enggan mengomentari panasnya komunikasi antara Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Lulung Lunggana. Keduanya saling berkomentar soal penertiban pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang.

Belakangan, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan yang menaungi Lulung di DPRD DKI juga angkat bicara. Mereka meminta agar Menteri Dalam Negeri memberikan teguran keras kepada Ahok karena pernyataannya yang dianggap tidak etis terhadap Lulung.

Jokowi enggan memperkeruh suasana dengan ikut berkomentar. "Itu jangan dipanas-panasin, biar semua dingin supaya rampung," kata Jokowi di Balai Kota DKI Jakarta, 31 Juli 2013.

Menurut dia, permasalahan pedagang kaki lima di Tanah Abang merupakan masalah ketegasan. Penertibannya juga mengandalkan kerja sama yang baik antara dinas-dinas terkait. Misalnya, PD Pasar Jaya bertugas mendengarkan dan memenuhi aspirasi pedagang soal fasilitas di pasar, Satpol PP menertibkan pedagang dari badan jalan, dan Dinas Perhubungan mengatur arus lalu lintas di sekitar pasar.

"Harus bekerja sama supaya pasar itu tetap ramai," kata Jokowi. Selain itu, penertiban harus berjalan terus-menerus. "Kalau perlu dijaga sampai enam bulan atau setahun, jangan ada pedagang yang keluar," kata dia. Jika ada satu saja pedagang yang lolos, pedagang lainnya akan mengikuti. "Nanti harus mulai dari nol lagi."

ANGGRITA DESYANI

Sabtu, 06 Juli 2013

Bedanya Jokowi dengan Pejabat Pemukul Pramugari di Pesawat

leh Raden Trimutia Hatta
Posted: 07/06/2013 16:49
Bedanya Jokowi dengan Pejabat Pemukul Pramugari di Pesawat
Liputan6.com, Jakarta : Bila Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bangka Belitung Zakaria Umar memukul Pramugari Sriwijaya Air Nur Febriani, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo malah bersikap sebaliknya. Seperti apa gaya pria yang karib disapa Jokowi itu saat di pesawat?

Menurut kesaksian Deasy Amrin --seorang blogger yang pernah satu pesawat dengan Jokowi, pria asal Solo itu tidak menunjukkan diri sebagai pejabat saat di pesawat. Deasy mengaku, saat itu ia dan suami sedang bertolak kembali ke Jakarta dari Solo, melalui Bandara Adi Soemarmo pada Minggu 26 Mei lalu.

Saat tengah menunggu giliran masuk pesawat di tengah antrean panjang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara sedikit gaduh di belakang. Bukan hanya dirinya, hampir semua penumpang menoleh ke arah sumber gaduh itu.

Ternyata, ia melihat sosok Jokowi yang mengenakan celana jeans, kemeja putih bertangan panjang yang digulung. Tanpa diampingi ajudan, Jokowi menyandang sendiri ransel hitamnya di pundak dan ikut antre masuk ke pesawat dengan penumpang lainnya.

"Dia terlihat sedikit lelah, namun secara umum terkesan santai, tenang dan ramah. Pria itu menebar senyuman khasnya. Dia orang nomor satu di DKI, Joko Widodo yang tenar dengan sapaan akrab Jokowi," tulis Deasy di blognya, adesmurf.wordpress.com, yang dikutip Liputan6.com, Jumat (7/6/2013).

Kelas Ekonomi

Keheranan Deasy tak sampai di situ. Ia mengaku menyaksikan sesuatu yang langka di negeri ini, seorang pejabat publik terkemuka ikut di dalam antrean masuk ke pesawat, untuk kemudian duduk di bangku belakang: kelas ekonomi!

"Baru kali ini saya duduk lebih depan daripada seorang pejabat. Bukan tanpa alasan. Sudah terlalu sering saya menyaksikan bagaimana pongahnya perangai para penguasa ketika menggunakan fasilitas publik. Jangankan mereka, para asisten dan lingkaran terdekatnya juga kerap bertingkah berlebihan, selalu minta dilayani, diistimewakan dan dimaklumi setiap kali mereka hadir. Tidak banyak yang lebih memuakkan dari hal tersebut," papar Deasy yang berprofesi sebagai Psikolog itu.

Jokowi, sambung Deasy, saat itu datang seorang diri tanpa kawalan. Sikap tubuhnya begitu alami, tenang dan apa adanya. Ia membaur dengan orang lain tanpa rasa canggung atau kedekatan buatan ala pejabat pada umumnya.

"Sikap yang saya yakini hanya bisa muncul lewat adanya keinginan tulus untuk menghargai orang lain, dari hatinya," lanjut Deasy.

Turun dari pesawat, sambungnya, Jokowi pun mengikuti jalur umum. "Ikut antre, turun tangga, dan menaiki bus bandara yang mengantarkan ke terminal kedatangan; seorang diri," ungkapnya.

"Kepala saya langsung berhitung mengalkulasi taksiran biaya yang bisa dihemat antara perjalanan beliau dibandingkan dengan para pejabat yang memerlukan antek-antek dan tetek bengek yang lebih ke arah tiada manfaat itu," tambah Deasy.

Apa yang diungkapkan Deasy, bertolak belakang dengan yang dilakukan Kepala BKPMD Bangka Belitung Zakaria Umar. Ia tega memukul pramugari Sriwijaya Air Nur Febriani. Zakaria tak terima karena ditegur lantaran menggunakan ponsel dalam pesawat.

Akibat dipukul Zakaria dengan koran, Febri pun mengalami luka lebam di belakang telinganya. Saat ini, Zakaria yang menjadi tersangka penganiayaan sejak kemarin itu masih ditahan di Mapolsek Pangkalan Baru, Bangka Belitung.

Polisi sudah memeriksa saksi korban dan saksi lainnya untuk menelusuri kronologi kasus ini. Zakaria dijerat Pasal 351 ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara. (Mut)