Panjaitan XVI

Album Keluarga

Album Keluarga
Media untuk menyampaikan Aspirasi, Cerita, Tulisan, Pendapat, Diskusi,Renungan, Gambar dan Peristiwa
Tampilkan postingan dengan label DKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DKI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Soal Ahok-Lulung, Jokowi: Jangan Dipanas-panasi

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo enggan mengomentari panasnya komunikasi antara Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Lulung Lunggana. Keduanya saling berkomentar soal penertiban pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang.

Belakangan, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan yang menaungi Lulung di DPRD DKI juga angkat bicara. Mereka meminta agar Menteri Dalam Negeri memberikan teguran keras kepada Ahok karena pernyataannya yang dianggap tidak etis terhadap Lulung.

Jokowi enggan memperkeruh suasana dengan ikut berkomentar. "Itu jangan dipanas-panasin, biar semua dingin supaya rampung," kata Jokowi di Balai Kota DKI Jakarta, 31 Juli 2013.

Menurut dia, permasalahan pedagang kaki lima di Tanah Abang merupakan masalah ketegasan. Penertibannya juga mengandalkan kerja sama yang baik antara dinas-dinas terkait. Misalnya, PD Pasar Jaya bertugas mendengarkan dan memenuhi aspirasi pedagang soal fasilitas di pasar, Satpol PP menertibkan pedagang dari badan jalan, dan Dinas Perhubungan mengatur arus lalu lintas di sekitar pasar.

"Harus bekerja sama supaya pasar itu tetap ramai," kata Jokowi. Selain itu, penertiban harus berjalan terus-menerus. "Kalau perlu dijaga sampai enam bulan atau setahun, jangan ada pedagang yang keluar," kata dia. Jika ada satu saja pedagang yang lolos, pedagang lainnya akan mengikuti. "Nanti harus mulai dari nol lagi."

ANGGRITA DESYANI

Ahok: Saya Siap Mati Demi Konstitusi

 Ahok: Saya Siap Mati Demi Konstitusi
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama didemo sekelompok orang yang memprotes pernyataannya soal Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Haji Lulung Lunggana, Senin, 29 Juli 2013. Di puncak unjuk rasa, lima perwakilan massa diizinkan masuk ke ruangan Ahok--demikian Basuki biasa disapa. Di sana, mereka memaksa Ahok meminta maaf kepada Haji Lulung.

Setelah diterima di satu ruangan, lima perwakilan itu berbicara satu per satu, yang intinya menginginkan Ahok untuk lebih santun dan beretika terkait pernyataan-pernyataannya dalam kasus pedagang kaki Lima di Tanah Abang. Ketika tiba giliran Ahok menjawab, dia dengan lugas menegaskan sikapnya.

"Saya tidak akan mengatakan karakter saya seperti apa, tapi saya akan menunjukan bahwa saya hanya taat sama konstitusi bukan konstituen. Kalau pun saya harus mati saya siap untuk konstitusi."

Ahok bahkan mengatakan dirinya telah mengucap istigfar tiga kali saat menduduki posisinya saat ini. "Saya juga tak cari musuh, tapi di Jakarta anda melakukan apa saja akan menyenggol orang karena ini kepentingan."

ANTO

Sabtu, 06 Juli 2013

Bedanya Jokowi dengan Pejabat Pemukul Pramugari di Pesawat

leh Raden Trimutia Hatta
Posted: 07/06/2013 16:49
Bedanya Jokowi dengan Pejabat Pemukul Pramugari di Pesawat
Liputan6.com, Jakarta : Bila Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bangka Belitung Zakaria Umar memukul Pramugari Sriwijaya Air Nur Febriani, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo malah bersikap sebaliknya. Seperti apa gaya pria yang karib disapa Jokowi itu saat di pesawat?

Menurut kesaksian Deasy Amrin --seorang blogger yang pernah satu pesawat dengan Jokowi, pria asal Solo itu tidak menunjukkan diri sebagai pejabat saat di pesawat. Deasy mengaku, saat itu ia dan suami sedang bertolak kembali ke Jakarta dari Solo, melalui Bandara Adi Soemarmo pada Minggu 26 Mei lalu.

Saat tengah menunggu giliran masuk pesawat di tengah antrean panjang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara sedikit gaduh di belakang. Bukan hanya dirinya, hampir semua penumpang menoleh ke arah sumber gaduh itu.

Ternyata, ia melihat sosok Jokowi yang mengenakan celana jeans, kemeja putih bertangan panjang yang digulung. Tanpa diampingi ajudan, Jokowi menyandang sendiri ransel hitamnya di pundak dan ikut antre masuk ke pesawat dengan penumpang lainnya.

"Dia terlihat sedikit lelah, namun secara umum terkesan santai, tenang dan ramah. Pria itu menebar senyuman khasnya. Dia orang nomor satu di DKI, Joko Widodo yang tenar dengan sapaan akrab Jokowi," tulis Deasy di blognya, adesmurf.wordpress.com, yang dikutip Liputan6.com, Jumat (7/6/2013).

Kelas Ekonomi

Keheranan Deasy tak sampai di situ. Ia mengaku menyaksikan sesuatu yang langka di negeri ini, seorang pejabat publik terkemuka ikut di dalam antrean masuk ke pesawat, untuk kemudian duduk di bangku belakang: kelas ekonomi!

"Baru kali ini saya duduk lebih depan daripada seorang pejabat. Bukan tanpa alasan. Sudah terlalu sering saya menyaksikan bagaimana pongahnya perangai para penguasa ketika menggunakan fasilitas publik. Jangankan mereka, para asisten dan lingkaran terdekatnya juga kerap bertingkah berlebihan, selalu minta dilayani, diistimewakan dan dimaklumi setiap kali mereka hadir. Tidak banyak yang lebih memuakkan dari hal tersebut," papar Deasy yang berprofesi sebagai Psikolog itu.

Jokowi, sambung Deasy, saat itu datang seorang diri tanpa kawalan. Sikap tubuhnya begitu alami, tenang dan apa adanya. Ia membaur dengan orang lain tanpa rasa canggung atau kedekatan buatan ala pejabat pada umumnya.

"Sikap yang saya yakini hanya bisa muncul lewat adanya keinginan tulus untuk menghargai orang lain, dari hatinya," lanjut Deasy.

Turun dari pesawat, sambungnya, Jokowi pun mengikuti jalur umum. "Ikut antre, turun tangga, dan menaiki bus bandara yang mengantarkan ke terminal kedatangan; seorang diri," ungkapnya.

"Kepala saya langsung berhitung mengalkulasi taksiran biaya yang bisa dihemat antara perjalanan beliau dibandingkan dengan para pejabat yang memerlukan antek-antek dan tetek bengek yang lebih ke arah tiada manfaat itu," tambah Deasy.

Apa yang diungkapkan Deasy, bertolak belakang dengan yang dilakukan Kepala BKPMD Bangka Belitung Zakaria Umar. Ia tega memukul pramugari Sriwijaya Air Nur Febriani. Zakaria tak terima karena ditegur lantaran menggunakan ponsel dalam pesawat.

Akibat dipukul Zakaria dengan koran, Febri pun mengalami luka lebam di belakang telinganya. Saat ini, Zakaria yang menjadi tersangka penganiayaan sejak kemarin itu masih ditahan di Mapolsek Pangkalan Baru, Bangka Belitung.

Polisi sudah memeriksa saksi korban dan saksi lainnya untuk menelusuri kronologi kasus ini. Zakaria dijerat Pasal 351 ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara. (Mut)