Panjaitan XVI

Album Keluarga

Album Keluarga
Media untuk menyampaikan Aspirasi, Cerita, Tulisan, Pendapat, Diskusi,Renungan, Gambar dan Peristiwa
Tampilkan postingan dengan label Kotbah 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotbah 01. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2012

Matius 15 : 1 - 6




ADAT  TIDAK MENGALAHKAN FIRMAN ALLAH  

          Ketika beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem datang kepada Yesus untuk komplain terhadap perbuatan murid – muridNya yang melanggar adat istiadat nenek moyang mereka karena tidak membasuh tangan sebelum makan. Lalu Yesus merespon dengan mengatakan  “mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman : hormatilah Ayah dan Ibumu; dan lagi siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti di hukum mati. Tetapi kamu berkata : barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk memeliharamu, sudah digunakan untuk persembahan Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu.  (ayat 1-6).

          Tindakan mereka untuk menjebak dan mencobai Yesus dengan perkara- perkara yang disampaikan tentunya supaya bisa menangkap dan menghakimi Yesus atas kesalahan yang dicari – cari. Sungguh perbuatan keji dan munafik, seolah – olah mereka mau membenarkan diri dan menyalahkan dan menghakimi  orang lain. Tuhan Yesus sangat bijaksana dalam menangggapinya dengan membalikkan pertanyaan itu kepada diri mereka maka dapat kita katakan “kena batunya” atau “senjata makan tuan”

Sampai sekarang perbuatan seperti ahli Taurat dan orang Farisi masih kita temukan di lingkungan kita, apalagi orang batak yang banyak mengagungkan adat istiadat daripada Firman Allah. Ada orang yang marah apabila dikatakan tidak beradat. Kalau dikatakan “dang pargareja” responnya biasa - biasa saja dan tidak marah. Kiranya nas ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, janganlah kita mengutamakan adat daripada Tuhan, dan jangan munafik, apalagi sampai membelakangi Firman Tuhan dalam hal – hal tertentu yang dihadapkan kepada adat istiadat manusia. Adat itu perlu tetapi lebih perlu Firman Tuhan atau dengan perkataan lain bahwa adat itu baik tetapi belum tentu benar sedangkan Firman Tuhan itu benar dan pasti baik. Amin (KAP) 

Ulangan 4 : 1 - 10


 KETAATAN MENDATANGKAN BERKAT  


Setiap ketetapan dan peraturan yang dibuat, pasti untuk mengatur supaya lebih baik sesuatu yang di aturnya. Tentunya demikian pula dengan bangsa Israel sewaktu Musa nenasehati bangsa tersebut supaya memelihara hukum Allah. Mereka tidak dibenarkan untuk menambah atau mengurangi yang diperintahkankan oleh Tuhan (ayat 2). Bahkan kalau mereka patuh maka akan menghasilkan berkat untuk hidup memasuki serta menduduki negeri yang diberikan oleh Tuhan dan selama tinggal di dalam negeri harus juga tetap menjalankanya. Demikian pula sebaliknya jika melanggar maka akan ada akibatnya yaitu hukuman dari Tuhan, bukti akan akibat melanggar perintah Tuhan telah diperlihatkanNya kepada bangsa Israel yaitu pemusnahan semua orang yang mengikuti Baal-Peor (ayat 3).

Kesetiaan bangsa Israel sangat dibutuhkan sebab akan menjadi kebijaksanaan dan akal budi di mata bangsa – bangsa lain karena tidak ada bangsa lain yang mempunyai Tuhan yang begitu dekat kepada umatnya dan tidak ada bangsa besar lain yang mempunyai ketetapan dan peraturan yang demikian adil. Namun demikian Musa juga mengingatkan agar mereka waspada dan berhati – hati supaya jangan melupakan hal – hal yang dilihat oleh mata dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatan mereka dan menyampaikan juga kepada anak cucunya.

Demikian pula kehidupan kita  sekarang memasuki situasi yang berbeda setiap hari, setiap minggu , maupun setiap bulan. Kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan tehnologi telah membawa kita pada situasi yang sulit untuk menentukan pilihan. Terkadang kita pada posisi sulit menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Firman Tuhan yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel pada ribuan tahun yang lalu tetap sangat relevan pada saat ini, bahwa dalam situasi yang sulit ini Tuhan mau katakan “ maka sekarang hai umatKu, dengarkanlah”. Mendengarkan Firman Tuhan dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dan membawa kita kepada perjalanan hidup yang teratur karena Tuhan sendiri yang menuntun dan mengarahkan. Perjalanan yang teratur itu akan mendatangkan berkat dan sejahtera bagi yang setia. Amin (KAP)


Matius 26 : 6 - 13



PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK DALAM HIDUPMU

          Ketika seorang perempuan datang kepada Yesus dengan membawa sebuah buli – buli pualam yang berisi minyak wangi yang mahal dan di curahkannya ke atas kepala Yesus yang sedang duduk makan, beraksi pula murid – murid Yesus dan berkata “untuk apa pemborosan ini” sebab minyak itu mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang miskin (ayat 7-9). Murid Yesus mengandalkan pikirian dalam menyikapi perbuatan perempuan itu, sehingga mau mengatakan apa yang dilakukannya perempuan itu adalah sia – sia, tidak bernilai dan tidak bermanfaat. Itulah jalan pikiran manusia yang sering memperhitungan untung dan rugi dalam bertindak.

          Persembahan seorang perempuan itu adalah yang terbaik disampaikan kepada Yesus, dia tidak pernah berpikir kerugian atas perbuatannya, semua itu dilakukan dengan tulus ikhlas, tetapi justru orang lain yang tidak mempersembahkan merasa rugi. Peristiwa ini sungguh dapat menjadi pelajaran berharga buat kita. Jangan pernah kita berhitung untung – rugi dalam Tuhan, tidak ada ruginya kalau kita melakukan perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Bahkan sebaliknya karunia berkat yang berlimpah yang kita dapatkan dari Tuhan.

           Perempuan itu telah membuka mata hati semua orang bahwa apa yang ia lakukan merupakan cerminan sikapnya terhadap Tuhan Yesus, dia yakin dan percaya akan Tuhan Yesus, sehingga tanpa ragu dan bimbang dia melakukannya dihadapan para murid – murid Yesus. Dia sudah melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Apakah kita bisa seperti perempuan itu ? hal inilah yang perlu kita sikapi, persembahkan hidup kita kepada Tuhan, karena itulah yang terbaik saat ini, bukan harta duniawi yang diperlukan oleh Tuhan, sebab kalau kita memberikan persembahan bukan berarti karena Tuhan kekurangan. Amin (KAP)


Kisah Para Rasul 23 : 1 – 10




HIDUPLAH DENGAN HATI NURANI YANG MURNI 
DI HADAPAN TUHAN

          Ketika rasul Paulus dibawa dari penjara oleh kepala pasukan untuk  dihadapkan kepada Mahkamah Agama, maka berkatalah Paulus “Hai saudara-sudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dan dengan hati murni dihadapan Allah (ayat 1), tetapi Iman Besar Ananias menyuruh orang – orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut paulus (ayat 2). Diapun membalas dan berkata kepadanya “Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putuih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku (ayat 3)”.

          Peristiwa yang dialami Paulus sungguh tragis, orang benar seperti Paulus dipenjara dan di perlakukan dengan tidak adil oleh Mahkaman Agama bahkan disuruh  Ananias untuk ditampar orang banyak yang ada disekiar di lokasi itu. Kalau kita berada diantara mereka apakah kita mau melakukan perintah Ananias untuk menampar ?. Setiap orang pasti pernah berada dalam keadaan sulit, lalu biasanya apa yang hendak kita lakukan jika hal itu terjadi dihadapan kita.

          Paulus dalam menghadapi masalah selalu berani berkata dengan kebenaran firman Allah. Ia tidak khawatir tentang dirinya, bahkan dalam penjara ia juga memberikan kesaksian dan mengatakan bahwa ia dipenjara karena Kristus. Bahkan bertambah berani berkata – kata tentang firman Allah dengan tidak takut (Filipi 1 ayat 13-14). Teladan ini harusnya bisa kita aplikasikan dalam kehidupan, jangan pernah kita ragu dan bimbang akan kuasa Tuhan, jangan kita berprasangka buruk setiap apa yang kita alami. Bisa saja kita menghadapi hal – hal pahit, terhimpit, terjepit tetapi semuanya harus dihadapi positif, yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu beserta kita. Hiduplah dengan hati nurani di dalam Tuhan. Amin (KAP)
        

Kolose 3 : 23-25


BERBUATLAH DENGAN SEGENAP HATIMU 
MAKA 
TUHAN AKAN MEMBERIKAN UPAH

Dalam hukum positif bahwa suatu perkara dapat dihukum adalah jika sudah dimulainya suatu perbuatan, misalnya seorang pencuri sepeda sudah dikategorikan sebagai pencuri apabila perbuatannya sudah dimulai dengan bergeraknya sepeda dari tempat asalnya berpindah ke tempat lain. Suatu perbuatan pasti menimbulkan akibatnya. Jika seseorang melakukan perbuatan negatif maka akibatnya juga negatif sedangkan jika melakukan perbuatan positif maka akibatnya juga positif. Dalam nas ini kita diminta untuk melakukan setiap perbuatan dengan segenap hati yang dilakukan untuk Tuhan bukan untuk manusia (ayat 23). Dengan perkataan lain ini adalah perbuatan positif, artinya apa pun perbuatan kita harus dilakukan yang berkenan dihadapan Tuhan.

Kalau kita mau mengetahui lebih dalam lagi atas akibat perbuatan yang di lakukan dengan sepenuh hati maka kita akan mendapatkan upahnya dari Tuhan, bukan dari manusia (ayat 24). Bagaimana  Bentuk upahnya tidak diperinci oleh nas ini, tetapi dapat diartikan bahwa bukan semata – mata materi kebutuhan jasmani tetapi lebih dari daripada itu, karunia berkat yang berkelimpahan dari Tuhan. Hak mutlak Tuhan untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh kita bukan apa yang kita minta bahkan upah sorgawi yang kita dapatkan dari Tuhan.

Tuhan tidak hanya memberikan upah tetapi juga memberikan hukuman kepada barangsiapa berbuat kesalahan dan dia akan menanggung kesalahan itu dengan segala akibatnya. Hal ini ditegaskan dalam ayat (25) tanpa memandang siapapun dia, tidak ada perlakuan khusus atau istimewah seperti apa yang dilakukan oleh manusia cendrung pilih kasih, membedakan status, tidak bersikap adil dalam menyikapi kesalahan orang lain. 
 

Untuk itu perlu kiranya kita memperbaiki diri dengan bercermin pada nas ini, tidak ada perbuatan yang tidak beresiko, berbuatlah positif. Perbuatan kita harus dibawa pengendalian diri dan menjadi pedoman kita untuk selalu ingat akan firman Tuhan. Kita harus bersabar dan harus meneguhkan hati karena kedatangan Tuhan sudah dekat (1 Petrus 5 ayat 8). Amin (KAP)


Jumat, 04 Mei 2012

Imamat 7 : 22 – 8 : 17


LEMAK DAN DARAH
Kalau ditanya kepada orang batak makanan favorit tentunya sebahagian besar mengatakan adalah sang-sang atau padar (panggang darah). Jawaban ini tentu mengarah kepada makanan yang diberi darah dalam mengolah masakan tersebut. Bahkan dalam pesta adat tanpa mempersiapkan makanan ini maka akan terasa hambar acara yang ditampilkan oleh tuan rumah, apalagi tanpa namargoar tentu pestanya akan menjadi tidak sempurna dalam adat yang berjalan. Bagimana kalau dikaitkan dengan nas ini ? apakah makan lemak dan darah dibenarkan. Dalam perjanjian lama Tuhan berfirman kepada Musa katakanlah kepada orang Israel: segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan (ayat 22-23). Selanjutnya dalam nas ini dikatakan bahwa orang yang melanggar larangan ini apalagi memakan makanan yang dipergunakan untuk mempersembahkan korban api-apian bagi Tuhan maka nyawa orang yang memakan itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya (ayat 25-27).

Pada saat datang orang Farisi dan ahli taurat kepada Yesus dan berkata bahwa murid Yesus telah melanggar adat istiadat nenek moyang mereka, namun jawab Yesus “hai orang –orang munafik ! benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”. Lalau Yesus memanggil orang banyak dan berkata “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:7-11). Pengertian ini ditegaskan lagi oleh Yesus bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang ke jamban, tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Sungguh mendalam pengertian yang disampaikan oleh Tuhan Yesus,  namun masih saja orang berupaya mencari kebenaran yang tidak didasarkan pada alkitab tetapi hanya dalam pengertiannya sendiri. Kiranya kita yang membaca renungan ini semakin dewasa iman dan kepercayaan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk menyempurnakan Firman Tuhan yang telah ditaburkan sebagai Firman yang hidup. Puji Tuhan selamanya. Amin (KAP)

Kamis, 03 Mei 2012

mamat 6 : 14 – 7 : 21


KORBAN PERSEMBAHAN KEPADA ALLAH

Korban persembahan adalah bertujuan untuk memulian Allah, dalam nas ini dijelaskan bahwa ada beberapa korban persembahan kepada Allah antara lain yaitu (1). dengan “korban sajian” yang dalam pelaksanaannya dibawa kehadapan Tuhan ke depan mezbah, inilah yang dilakukan oleh anak-anak harun. Semua korban sajian persembahan itu harus habis dibakar sehingga baunya menyenangkan hati Tuhan (6:14-15). Disamping itu ada pula (2). “korban penebus salah” yaitu korban untuk persembahan maha kudus, ditempat orang menyembelih korban bakaran disitulah harus disembelih korban penebus salah dan darahnya haruslah disiramkan pada mezbah itu sekelilingnya (7:1-2). Lebih lanjut juga ada (3).  “korban keselamatan” yang harus dipersembahkan orang kepada Tuhan. Jikalau ia mempersembahkan  untuk memberi syukur haruslah beserta korban syukur itu roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, serta roti bundar dari tepung yang terbaik yang teraduk yang diolah dengan minyak (7:11)

Bagaimana dengan korban persembahan kita dimasa sekarang ini ? apakah masih relevan  dan perlu melakukan hal yang sama seperti masa nas di atas, tentunya kita harus menjawabnya dengan dasar Firman Tuhan pula. Tentang persembahan yang benar dikatakan “demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12 :1-2). Begitu pula dalam Ibrani 13:15-16 dikatakan pula sebab itu marilah kita, oleh Dia senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban – korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.

Tuhan Yesus Kristus telah mengorbankan diri-Nya sekali untuk selamanya sebagai korban penebus dosa, dan kita sebagai pengikut Kristus haruslah berkorban atas dasar itu. Mari aplikasikan dalam hidup sehari – hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin (KAP)