Panjaitan XVI

Album Keluarga

Album Keluarga
Media untuk menyampaikan Aspirasi, Cerita, Tulisan, Pendapat, Diskusi,Renungan, Gambar dan Peristiwa
Tampilkan postingan dengan label Berita 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita 01. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Kisah Densus 88: Biasa Memburu, Kini Diburu

Oleh: Fachrurrozi

SEBUAH video aksi kekerasan sejumlah pria berseragam Kepolisian RI tiba-tiba membetot perhatian publik. Sejumlah pria bertelanjang dada yang tertangkap, ada di antaranya dengan bagian tubuh tertembus peluru, diperlakukan dengan kasar oleh para pria berseragam itu.

Dalam kondisi lemah, mereka diinjak sambil diinterogasi. Secuplik kisah ini muncul dalam rekaman gambar hampir berdurasi lima menit yang nongol di jejaring sosial YouTube.

Publik pun ramai membincangkan sembari menunjuk – sesuai tajuk video yang diunggah – Detasemen Antiteror (Densus) 88 sebagai pelaku utama kekerasan tersebut. Namun Kepala Kepolisian RI, Jenderal Timur Pradopo membantah. “Itu anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah,” tandasnya. Memang, tempat kejadian peristiwanya ada di Poso,  Sulawesi Tengah. Namun Densus 88 terlanjur menjadi sorotan publik.

Bagaimana kisah pasukan pemburu pelaku aksi teror yang kerap menggunakan topeng saat melakukan penangkapan ini?

Jadi Bintang usai Bom Bali
Pasukan dengan anggota tak lebih dari 400 orang ini dibentuk sebagai respons atas peristiwa peledakan bom di Jalan Legian, Kuta, Bali, pada 2002. Peristiwa ini mengakibatkan lebih dari 200 orang meninggal dunia, sebagian di antaranya adalah warga negara asing.

Dari peristiwa ini, pemerintah memandang bahwa ancaman aksi terorisme di Indonesia makin serius. Peristiwa yang dikenal dengan Bom Bali 1 itu merupakan klimaks, sampai akhirnya dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

Instruksi ini dipicu oleh maraknya teror bom hebat sejak 2001. Aturan ini kemudian dipertegas dengan diterbitkannya paket Kebijakan Nasional terhadap pemberantasan terorisme dalam bentuk Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 dan 2 Tahun 2002.

Peraturan pengganti itu pun ditetapkan menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dari sinilah lahirnya Detasemen Khusus 88, melalui surat keputusan Kepala Kepolisian RI Jenderal Da’i Bachtiar mengeluarkan Surat Keputusan Nomor  30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003.


Dari satu perburuan ke perburuan lain
Dalam beragam aksinya, pasukan khusus yang ikut dilatih oleh badan intelijen Amerika (CIA dan FBI) itu didukung persenjataan dan peralatan pendukung canggih. Di antaranya, seperti senapan serbu Colt M4 5.56 mm, Steyr AUG (senapan penembak jitu), Armalite AR-10, serta shotgun Remington 870 buatan Amerika Serikat.

Dengan beragam peralatan mutakhir anggota Densus 88 seperti memburu mitos di tengah masyarakat. Nama dr Azahari dan Noordin M. Top pada awalnya juga seperti bayang-bayang bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Namun Densus 88 membuktikan bahwa wujud mereka ada.

Melalui sebuah drama penggerebekan di Batu, Malang, Jawa Timur, Azahari yang dituding sebagai biang teroris paling dicari di Indonesia, tewas. Semua aksi ini secara lengkap disiarkan televisi laiknya adegan pada film aksi Hollywood, lengkap dengan adu tembak dan sesekali ledakan besar.

Nama lain yang ikut melambungkan Densus 88 adalah sejumlah terduga teroris yang dianggap masuk dalam “Lingkaran 1 Azahari”. Sebut saja di antaranya, Noordin M. Top yang sempat beberapa kali lolos penggerebekan.

Selanjutnya adalah rangkaian penyerbuan dan penangkapan sejumlah orang yang dituduh sebagai teroris. Sejak peristiwa naas Bom Bali 1, sudah lebih dari 800-an terduga teroris ditangkap, yang hampir 10 persennya tewas di tempat.

Dari pelaku peristiwa bom Bali II, pengeboman Kedutaan Australia, hingga ledakan di Hotel J.W Marriot. Terakhir adalah penangkapan Ali Sanang alias Papa Kairul, terduga teroris yang dianggap jaringan Poso, Sulawesi Tengah, pada Januari 2013. Ali merupakan satu dari 24 target yang masuk dalam daftar perburuan Densus 88.

Jaringan ini dituding terlibat dalam beberapa latihan dan aksi teror di Poso. Begitulah kisah seterusnya perburuan Densus 88. Masyarakat cukup harus menerima bahwa mereka yang ditangkap, baik dalam kondisi hidup ataupun mati adalah para teroris.

Lewat beragam aksinya, nama Densus 88 terus makin populer.

Tapi kini, rupanya giliran para pemburu itu yang diburu. Aksi mereka yang tak tampak di permukaan, lagi-lagi kecuali saat drama penangkapan yang disiarkan langsung oleh televisi, kali ini dapat tandingan publikasi. Sedikitnya ada dua video amatir merekam aksi pria berseragam yang dianggap sebagai kelompok Densus 88 sedang melakukan tindakan menyiksa.

Banyak masyarakat minta agar pasukan khusus itu dibubarkan, terutama lantaran aksinya yang dianggap melanggar hak asasi manusia. Kali ini, untuk kedua kalinya, desakan datang dari sejumlah organisasi massa Islam.

Berkumpul di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah akhir minggu pertama Maret misalnya, 27 organisasi massa yang tergabung dalam Silaturrahmi Ormas Lembaga Islam atau SOLI minta Densus 88 dievaluasi. Kalau perlu dibubarkan atas dugaan pelanggaran HAM berat.

Anggota ormas yang terkemuka dalam kelompok itu, di antaranya: Majelis Ulama Indonesia Pusat, Pimpinan Pusat Muhammadiya, Muslimat NU, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), DPP Syarikat Islam, PP Matla’ul Anwar, serta Al Irsyad.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh Marwah Daud Ibrahim, Ketua Presidium ICMI, Densus 88 telah terbukti (tindakannya) melampaui kepatutan maupun kepantasan dan batas perikemanusiaan. “Sebagian terekam dalam video yang beredar. Densus 88 telah menelan banyak korban serta menimbulkan kesedihan, luka dan trauma yang mendalam.”

Tokoh organisasi Islam seperti Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiah ikut mendampingi penyampaian sikap itu. “Kami mendesak pemerintah untuk mengaudit kinerja (termasuk keuangan) lembaga tersebut (Densus 88),” ujarnya.

Desakan seperti ini terus muncul melalui pemberitaan. Densus 88 sedang diburu agar dibubarkan. Tapi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Sutarman menjawab tegas: “Ada orang-orang tertentu, khususnya teroris, yang menghendaki Densus dibubarkan."

Bahkan katanya, jika Densus 88 dibubarkan, peristiwa bom bisa terulang lagi. Duh!



Senin, 10 September 2012

Nyata dan Memang ada

Pelajaran Hemat dari Pria Terkaya di Cina


Oleh Jill Krasny | Business Insider

Meski menjadi pria terkaya di Cina, dan terkaya nomor 23 secara global, Zong Qinghou adalah pria yang sangat hemat dalam menggunakan uangnya.

Menurut Bloomberg News, Zong, pendiri perusahaan minuman ringan Wahaha berusia 66 tahun ini, hanya menggunakan $20 per hari (atau Rp 190 ribu) meski ia memiliki kekayaan $21,6 miliar (atau Rp 206,1 triliun). Seperti terungkap oleh Nick Rosen dari BBC musim panas lalu, Zong memiliki pengabdian seperti biksu terhadap tugas-tugasnya. Salah satu karyawan Wahaha ingat bagaimana Zong memeriksa dengan teliti tiap pengeluaran kantornya, termasuk buat pembelian sapu.

Karir Zong berawal dari penjaga kantin di sekolah sampai menjadi raja minuman ringan dalam 20 tahun, sehingga sangat wajar kekayaannya itu tidak membuat dia lupa daratan. Seperti kebanyakan orang kaya lainnya yang berpenghasilan $100 ribu (atau Rp 954 juta) dan dikutip oleh PNC Financial Services, resesi tidak berpengaruh pada tujuan rencana pensiun mereka.

Selain menjadi penabung yang disiplin seperti Zong, seperti banyak responden survey PNC lainnya, 46% mengatakan mereka bekerja keras untuk mengurangi utang, 33% mengubah kebiasaan belanja mereka, dan 23% membayar utang rumah. Selain itu, mereka juga berencana terus bekerja pada usia emas mereka, dan tiga perempat mengatakan akan tetap bekerja, meski sedikit, setelah pensiun.

Anda tak perlu hemat seperti Zong, meski begitu sangat penting untuk melihat kebiasaan-kebiasaan apa saja yang membuat pria ini jadi kaya. Ia bekerja keras, mengikuti minatnya, dan hidup jauh di bawah pendapatannya. Sampai sekarang pun dia tidak mengubah gaya hidupnya meski sudah kaya. Sederhananya, dia berpikir seperti orang kaya, dan itu mendatangkan banyak uang buatnya.


Kamis, 16 Agustus 2012

Presiden Mesir Mohamed Mursi Tunjuk Wanita Kristen Jadi Wapres


VIVAnews - Presiden baru Mesir, Mohamed Mursi, akan mengukir sejarah baru di negaranya. Sebab, pesiden yang dipilih melalui pemilu langsung itu akan menunjuk sejumlah wakil presiden, diantaranya tokoh perempuan, golongan Kristen Koptik, dan juga wakil dari kelompok liberal.

Penasihat politik Mursi, Ahmed al-Deif, mengatakan pengangkatan seorang tokoh perempuan untuk menduduki jabatan puncak di Mesir baru pertama kali ini akan terjadi. "Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mesir, seorang perempuan akan mengambil posisi tersebut," kata Deif sebagaimana dikutip CNN.

Menurut Deif, penunjukan wakil presiden perempuan ini tidak hanya untuk mewakili agenda dan kepentingan kaum perempuan dan agama tertentu. Wakil presiden yang baru itu diharapkan akan mumpuni memimpin Mesir ke depan. "Dan akan memberikan perhatian dan nasihat kritis kepada kabinet presiden," kata dia.

Al-Deif menambahkan, Mursi dan partainya tidak akan membentuk negara Islam di Mesir. Sikap Mursi, kata dia, sangat tegas dalam hal ini. "Dia telah memberi jaminan akan memilih negara konstitusional sipil yang berdasarkan pada prinsip menghormati perbedaan suku, keyakinan, dan agama," katanya.

Sebelum pemilu berlangsung, Mursi melarang perempuan ikut dalam persaingan kursi presiden. Namun, setelah memenangkan pemilu, dia berbalik menyatakan akan berdiri membela hak-hak kaum perempuan. "Peran perempuan dalam masyarakat Mesir jelas," kata Mursi.

Menurut Mursi, hak perempuan sama dengan laki-laki. Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki di Mesir. "Tidak boleh ada segala jenis perbedaan di antara sesama warga Mesir, kecuali yang didasarkan pada konstitusi dan hukum," katanya.

Mursi merupakan presiden pertama Mesir yang dipilih dalam pemilu demokratis setelah tergulingnya Presiden Husni Mubarak. Mursi mendapat 13,2 juta suara dari sekitar 26 juta pemilih. Dia memperoleh 51 persen suara pemilih. Sementara itu, pesaingnya, Ahmed Shafik, yang juga perdana menteri terakhir era Husni Mubarak, memperoleh 12,3 juta suara.


Sumber : http://bersatulahdalamgerejakatolik.blogspot.com/2012/08/presiden-mesir-mohamed-mursi-tunjuk.html?m=1

Kamis, 10 Mei 2012

Sekilah Info

Bayi Mampu Membedakan Ras Manusia
Widita Fembrian | Senin, 07 Mei 2012 - 09:37:37 WIB
Dibaca : 37


(AP/Photo)
Seperti belajar tertawa dan menangis, bayi juga mampu mendeteksi keberadaan ras yang berbeda.
JAKARTA – Dalam sebuah studi pengenalan wajah, ditemukan bahwa bayi yang berusia antara satu sampai sembilan bulan sudah mampu membedakan tanda-tanda pengenalan bias rasial. Bayi berkulit putih sudah mampu membedakan mana ras mereka dan ras dari golongan lain.
Para peneliti di University of Massachusetts di Amherst menemukan, pada usia muda bayi-bayi itu sudah membedakan diskriminasi terhadap orang-orang dari ras yang berbeda. Kemampuan ini ditunjukkan saat mereka mengenali wajah dan ekspresi emosional sesesorang.
Penelitian yang dilansir SH dari HealtyLife, Senin (7/5) memperlihatkan, sebanyak 48 bayi berkulit putih dianalisis dengan menyertakan gambar-gambar orang dari Afro-Amerika yang berkulit hitam.
Para bayi tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok berusia lima bulan dan kelompok kedua berusia sembilan bulan. Mereka disuruh untuk membedakan wajah antara mereka dalam satu ras dan membedakan wajah dari ras lainnya.
Hasilnya memperlihatkan, bayi dalam kelompok lima bulan jauh lebih mahir membedakan wajah dari ras berbeda. Sedangkan pada kelompok usia sembilan bulan, mereka juga sudah mampu membedakan dua wajah dalam ras sendiri dengan sangat mudah.
Pada percobaan kedua, aktivitas otak bayi itu dideteksi dan direkam menggunakan sensor. Kemudian mereka diperlihatkan gambar wajah orang dari ras Kaukasia atau Afro-Amerika dengan ekspresi bukan dengan suara seperti yang biasa mereka dengar, seperti tertawa dan menangis.
Dalam kegiatan perekaman otak ini, hasilnya menunjukkan bahwa bayi berusia sembilan bulan mampu membedakan ekspresi emosi ras Kaukasia dibandingkan dengan kelompok bayi berusia lima bulan. Para peneliti menemukan bahwa pemrosesan emosi wajah bergerak dari bagian depan otak untuk daerah di belakang otak dalam kelompok usia lebih tua.
“Hasil ini menunjukkan bahwa bias dalam pengenalan wajah dan persepsi mulai dalam preverbal bayi, jauh sebelum konsep tentang ras terbentuk”, kata pemimpin studi Lisa Scott.
“Penting bagi kita untuk memahami sifat dari bias untuk mengurangi atau menghilangkan [bias]”, lanjut dia.
Hal ini mirip dengan bagaimana bayi belajar bahasa. Pada awalnya para bayi belum tahu mana suara yang berarti dalam bahasa asli mereka, sehingga mereka memperlakukan semua suara sama.
Ketika mereka mempelajari bahasa lisan di sekitar mereka, kemampuan mereka untuk membedakan suara dalam bahasa lain dan penurunan kemampuan mereka untuk membedakan suara dalam bahasa asli mulai meningkat.
“Hal yang dapat menjelaskan tentang kemampuan bayi sudah mengalami peningkatan pesat di usia sembilan bulan”, kata Lisa.
(Sinar Harapan)

Kesehatan

Ditemukan “Tombol Kematian” Sel Otak
Albertina S.C. | Senin, 07 Mei 2012 - 16:41:34 WIB
Dibaca : 26


(Otak pasien Alzheimer/blog.alz.org)
Pengujian lab menunjukkan tikus yang radang otak mampu mematikan saklar sel mati di otaknya.
LONDON – Langkah untuk mengurai benang kusut yang merusak otak seiring pertambahan usia makin mendekati sumber masalah. Para ilmuwan Inggris menemukan cara menghentikan sel otak mati pada tikus yang menderita penyakit otak. Temuan ini memperdalam pemahaman tentang mekanisme penyakit neurodegeneratif atau penurunan fungsi saraf otak pada manusia, seperti Alzheimer dan parkinson.

Mengutip Reuters, Minggu (5/5),  para ilmuwan mengatakan menemukan sebuah jalan utama yang mengarah pada sel otak mati dalam tikus yang sakit prion. Ini adalah sejenis protein yang diperoleh dari jaringan otak binatang yang terkena penyakit radang otak yang tidak dikenal. Penyakit ini setara dengan Creutzfeld-Jacob Disease (CJD) yang memiliki gejala yang sama yakni terjadi degenerasi otak akibat penumpukan protein dalam jaringan saraf otak.

Dalam penyakit neurodegeneratif, protein yang "kusut" dalam berbagai cara mengarah pada penumpukan protein cacat. Protein-protein cacat inilah yang membentuk plak yang ditemukan pada otak pasien dengan Alzheimer dan badan Lewy yang ada pada penyakit Parkinson.

Para peneliti yang membeberkan temuan mereka dalam jurnal Nature menemukan bagaimana pemblokiran itu dan mampu mencegah sel-sel otak dari kematian sehingga membantu tikus hidup lebih lama.

"Apa yang menarik adalah munculnya mekanisme umum kematian sel otak, di berbagai gangguan neurodegenerative yang berbeda, diaktifkan oleh salah dilipat protein yang berbeda dalam masing-masing penyakit," kata Giovanna Mallucci, yang memimpin penelitian di University of toksikologi Leicester unit.
Protein-protein tersebut membentuk plak yang ditemukan pada otak pasien dengan Alzheimer dan badan Lewy ditemukan pada penyakit Parkinson.

"Fakta bahwa pada tikus dengan penyakit prion kami dapat memanipulasi mekanisme ini dan melindungi sel-sel otak, berarti kita mungkin memiliki jalan ke depan untuk mengobati gangguan lain," kata Giovanna Mallucci yang memimpin penelitian di University of Toksikologi Leicester Unit, Inggris.

Diperkirakan 18 juta orang di seluruh dunia menderita Alzheimer dan parkinson mempengaruhi sekitar satu dari 100 orang yang berusia di atas 60 tahun. Pada penyakit ini, neuron di otak mati, menghancurkan otak dari dalam.

Tapi, kenapa neuron mati tetap merupakan misteri yang belum terpecahkan. Ini masih menjadi hambatan untuk mengembangkan pengobatan yang efektif dan untuk dapat mendiagnosis penyakit pada tahap awal ketika obat-obatan mungkin bekerja lebih baik.

Pemicu

Tim Mallucci menemukan bahwa penumpukan protein yang kusut dalam otak tikus dengan penyakit prion mengaktifkan mekanisme pertahanan alami dalam sel yang akan mematikan produksi protein baru.

Biasanya, protein-protein itu akan digantikan protein yang baru, tetapi dalam tikus yang sakit, menurut peneliti, saklar yang terus menumpuk protein cacat dimatikan. Inilah titik pemicu yang menyebabkan kematian sel otak karena protein kunci penting untuk kelangsungan hidup sel tidak diproduksi.

Dengan menyuntikkan protein yang menghalangi tombol "mati", para ilmuwan mampu mengembalikan produksi protein yang memberi kelangsungan hidup dan menghentikan degenerasi saraf tersebut.

Mereka menemukan pada sel-sel otak yang dilindungi, tingkat proteinnya telah diperbaiki dan transmisi sinaptik-- cara sel-sel otak memberi sinyal satu sama lain—terbentuk kembali. Tikus juga hidup lebih lama, meskipun hanya sebagian kecil dari otak mereka yang telah diobati.

Eric Karran, Direktur Penelitian di Badan Alzheimer Research UK, berpendapat hasil penelitian yang masih tahap awal ini menarik.

"Sementara penyakit neurodegeneratif dapat memiliki pemicu yang berbeda, studi ini menunjukkan bahwa mereka mungkin bertindak melalui mekanisme umum untuk merusak sel-sel saraf.  Temuan ini menyajikan konsep menarik bahwa satu pengobatan bisa memiliki manfaat untuk berbagai penyakit yang berbeda," ujar dia.

Roger Morris, profesor neurobiologi molekular King College London yang tidak terlibat dalam studi, mengatakan penemuan itu adalah "sebuah terobosan besar dalam memahami apa yang membunuh neuron pada penyakit neurodegeneratif".

"Ada alasan baik untuk mempercayai respons yang diidentifikasi dengan penyakit prion berlaku juga untuk Alzheimer dan penyakit neurodegeneratif lain," ujar dia.
(Reuters)

Berita

Melawan Perkebunan Sawit dan Pertambangan Batu Bara
Wahyu Dramastuti | Rabu, 09 Mei 2012 - 15:51:41 WIB
Dibaca : 78


(SH/Yuyuk Sugarman)
Segala fitnah dan ancaman terhadap dirinya diabaikan demi kebenaran dan kemanusiaan. 

Sepotong senyum merekah di balik kacamata berwarna hitam berbentuk kotak itu. Adem ayem rasanya setiap kali berbincang dengan sang empunya senyuman itu. Apalagi tutur katanya lembut dan tenang pembawaannya. Wajar saja jika orang menyangsikan dia adalah tokoh penggerak masyarakat untuk demonstrasi melawan perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara.
Dia berani bersaksi, "Di depan hutan dibabat, di belakang bumi dikeruk". Padahal sejatinya, Mardiana D Dana (53), nama sosok itu, adalah seorang perawat di Rumah Sakit Barito Timur sejak 1979. Karena sebagai perawat dan terjun langsung ke masyarakat, Mardiana mendengar langsung keluhan-keluhan warga.
Ternyata masyarakat mengeluhkan kebun, hutan, ladang, sungai, hingga danau dan rawa-rawa yang sedang digarap perusahaan sawit dan batu bara. "Masyarakat di sana hidupnya berkaitan dengan alam. Jadi kalau perkebunan karet dan buah-buahan dibabat habis, lalu mereka hidup dari mana?" tutur Mardiana, ibu dari dua anak dan dua cucu ini.
Kemudian rakyat pergi mengadu ke kepala desa dan kepala kecamatan, tetapi tak memperoleh tanggapan. Akibatnya, terjadi perselisihan antarwarga dan dengan kepala desa. Bahkan di Desa Janah Jari, ada perusahaan yang tumpang tindih antara kebun sawit dan tambang batu bara.
Di sana ada empat perusahaan yang tumpang tindih. Pada 1993 terjadi tragedi berdarah dan belasan orang meninggal setelah ada bentrok antara rakyat dan pihak perusahaan. Hal ini terjadi akibat nasi dan padi milik penduduk yang diambil karyawan perusahaan.
Karena sebagai perawat yang bolak-balik rumah sakit, Mardiana tidak sempat menghitung berapa jumlah korban sebenarnya. "Saya memberanikan diri. Saya hanya memohon kekuatan dan perlindungan Tuhan," katanya.
Lalu ada lagi kejadian ketika seorang lelaki umur 80-an yang menawarkan nyawanya untuk masuk hutan. "Saya bilang jangan! Itulah yang jadi penguat saya, kalau dulu dijajah Belanda maka sekarang dijajah sesama kita sendiri," tuturnya. Selain itu, Mardiana punya tanah sekitar 20 hektare yang dibabat orang lain sampai tidak diketahui lagi di mana batas area miliknya.
Terdorong rasa kemanusiaan, akhirnya Mardiana mulai bergerak mendampingi masyarakat di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah itu. "Saya ingin menolong mereka walaupun kemampuan saya terbatas dan saya malah dianggap sebagai musuh oleh sebagian orang. Kemudian saya mencari orang-orang yang bisa membantu keadaan ini, dan puji Tuhan bertemu dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)," ujarnya.
Sebelum 2008 dia sudah aktif mendampingi warga, tetapi kegiatannya stagnan. Kasih sayang dia salurkan begitu saja seperti air mengalir, bagaikan mengobati orang sakit. Barulah setelah bertemu AMAN, kiprahnya makin terfokus.
Akibat aktivitasnya melawan kapitalisme perkebunan sawit dan pertambangan batu bara, Mardiana yang berkulit putih itu diancam jiwanya dengan golok, mandau, juga diteror melalui posel maupun secara langsung.
"Saya tidak takut karena berdiri bersama rakyat, memperjuangkan hak hidup," tuturnya. Bahkan dengan bangga, perempuan ini mengatakan, "Kalau sebagai perawat saya hanya menyelamatkan satu orang, tetapi kalau menyangkut hak hidup berarti menyelamatkan banyak orang."
Malah, sebagai perawat dia terkadang merasa frustrasi jika ternyata pasiennya tidak berhasil disembuhkan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Lalu pelan-pelan Mardiana mengurangi aktivitasnya sebagai perawat, untuk lebih fokus pada tugas yang lebih besar.
Awalnya dia dicaci-maki banyak warga dan dianggap sombong, tetapi lama-kelamaan penduduk bisa memahami mengapa Mardiana mengurangi porsinya sebagai perawat. Dia bertekad akan terus memperjuangkan hak hidup rakyat dan selalu bersama rakyat. Ini karena kalau dirinya membiarkan pembabatan hutan, berarti dirinya membiarkan masyarakat tidak hidup sejahtera.
Walaupun atas pembabatan hutan itu rakyat memperoleh kompensasi, kompensasi itu hanya bersifat sementara dan tidak akan mencukupi hidup seterusnya. Sebaliknya, jika rakyat diberi hutan untuk dikelola, hidup mereka pasti akan sejahtera.
Namun apa lacur, pada 2010 kegiatan beberapa perusahaan di Barito Timur semakin menggila. Bahkan, ada perusahaan yang kepemilikannya ganda, memiliki pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit sekaligus. Lebih gila lagi, dalam satu desa ada empat perusahaan.
Mendampingi Tujuh Desa
Mardiana mendampingi masyarakat tujuh desa di Kabupaten Barito Timur, jadi tahu persis kondisi ini. Tujuh desa itu antara lain Desa Pangkan, Gunung Krasik, Sarapat, Pulau Patai, dan Dayu. Ketujuh desa tersebut sudah dibabat habis demi ambisi pemilik perkebunan sawit. Bahkan perkebunan merambah hingga sekitar 30 meter dari pemakaman masyarakat adat.
Di Desa Pulau Patai, ada perusahaan yang meminta izin membuat jalan. Karena akses jalan penting bagi warga, warga mengabulkan permintaan itu. Namun ternyata kemudian, akses itu bukannya untuk pembangunan jalan, melainkan untuk membuka perkebunan sawit. Padahal, sebelumnya sudah ada penolakan kebun sawit hingga ke menteri kehutanan.
Sementara itu, di Desa Gunung Krasik terdapat lokasi wisata yang indah. Ada gua dan air terjun menawan hati. Tetapi di sana ada delapan rumah yang diancam orang yang tamak, karena batu bara muncul di atas tanah tersebut. Sementara itu, di Desa Rumea, ada halaman sekolah dasar yang dirambah perkebunan sawit. "Anak-anak main di kebun sawit. Saya sakit hati karena mereka bisa terkena semprotan pupuk sawit. Kecamatan Dayu juga sudah dikelilingi kebun sawit.
Menurutnya, ada fakta sangat menyakitkan, di mana pada 2003–2004 penduduk di Kampung Sarapat, Kecamatan Dusun Timur, menghibahkan tanah sekitar 20 hektare untuk pembangunan Kabupaten Barito Timur. Namun ternyata pada 2006 pemda, desa, dan kecamatan menyerahkan desa itu kepada perusahaan. Rakyat tentu saja protes dan meminta agar hak mereka itu tidak dijual. Namun sampai saat ini rakyat hanya bisa gigit jari.
Ada juga kisah sedih lain yang dituturkan Mardiana, yaitu ada hutan anggrek paling luas, sekitar 10 hektare, yang musnah karena disulap menjadi perkebunan kelapa sawit.
Yang paling menyayat hati, ada dua situs bersejarah, yakni tapal batas antara Desa Sarapat dan Desa Morotuhu, yang hilang. Padahal di tempat inilah pernah dilakukan upacara perdamaian secara adat.
Ada dua orang yang rela dipotong lehernya demi perdamaian dua desa itu dan darahnya dimasukkan ke dalam lubang pohon besar di sana. "Itu dilakukan karena warga sudah bosan dengan pertikaian. Namun karena tidak ada lagi tapal batas itu, orang jadi lupa dengan perdamaian itu," Mardiana mengingatkan.
Dia menegaskan, merupakan kebohongan jika ada yang mengatakan masyarakat hidup lebih sejahtera dengan adanya perkebunan dan pertambangan. Ini karena rakyat yang sudah dipekerjakan akan diberhentikan secara sepihak dengan berbagai alasan. Kalaupun ada yang diberi ganti rugi atas tanahnya, hanya dihargai Rp 1 juta–Rp 3 juta per hektare.
Sebetulnya bagi rakyat setempat, ada 13 lokasi hutan adat atau hutan penyangga yang tidak bisa dibagi kepada siapa pun, karena menjadi tempat berburu, menanam sayur dan tanaman obat-obatan, mencari rotan, dan sumber air bersih berupa danau.
"Jadi adanya tambang batu bara dan kebun sawit membuat pemiskinan besar-besaran dan pembunuhan secara perlahan-lahan," tuturnya lagi. Hal itu terjadi karena pembuangan limbah pupuk dan semprotan hama kelapa sawit mengalir ke sungai.
Kegigihan Mardiana melawan pihak tambang dan kebun sawit membuat dirinya difitnah sebagai teroris dan difitnah pindah agama hanya karena sebagai muslim sering berkomunikasi dengan para pastor.
Namun, bagi Mardiana, apa pun akan dilakukannya demi masyarakat. Sayangnya, masyarakat sendiri terbagi dalam tiga kubu, yakni yang pro terhadap perusahaan, yang kontra, dan yang diam, meskipun mereka melihat ada oknum Brimob yang mendampingi perusahaan untuk menanam sawit.
“Saya menyesalkan mengapa orang-orang kaya dan berpendidikan ternyata lebih miskin dan bodoh,” Mardiana menegaskan.
Setegar-tegarnya Mardiana, matanya terlihat berkaca-kaca ketika bercerita bahwa bulu burung juwe yang biasa ditancapkan di topi, makin jarang karena mulai punah. Topi lawung pun kian jarang yang membuatnya, karena tak ada lagi kulit kayunya. Apalagi rompi dari kayu keang, pohon itu pun sudah sangat sulit dijumpai.
(Sinar Harapan)

Jangan Diskriminasi

Pemerintah Ingkari Konstitusi
Editorial SH | Rabu, 09 Mei 2012 - 15:23:21 WIB
Dibaca : 70


(dok/ist)
Ini merupakan bentuk pelanggaran hak-hak asasi manusia. 

Pelan namun pasti (karena dibiarkan pemerintah dan negara) bangsa Indonesia sedang menuju suatu masyarakat yang diskriminatif. Mereka yang “merasa” diri berjumlah banyak akan menindas dan menganiaya kaum yang jumlahnya lebih sedikit dalam banyak perkara.
 
Diskriminasi dan persekusi itu bisa terjadi menurut garis agama, suku, bahasa, golongan, dan lain sebagainya. Jelas kecenderungan ini merupakan kemunduran luar biasa dalam sejarah perjalanan bangsa kita. Tentu ini artinya para pemimpin kita hari ini gagal membawa bangsa Indonesia menjadi semakin beradab (civilized).

Karena itulah kita sangat menyesalkan dan menyayangkan kasus penutupan 16 gereja dan satu tempat ibadah aliran kepercayaan di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Penyegelan itu dilakukan tim penertiban rumah ibadah yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, dan berlaku sejak Selasa (1/5) lalu.
 
Dasar penyegelan itu adalah Surat Keputusan Bersama Dua Menteri tentang Rumah Ibadah, Peraturan Gubernur No 25/2007 tentang Izin Pendirian Rumah Ibadah di Aceh, Qanun Aceh Singkil No 2/2007 tentang Pendirian Rumah Ibadah, dan surat perjanjian bersama antara komunitas Islam dan Kristen dari tiga kecamatan di Aceh Singkil (Kecamatan Simpang Kanan, Kecamatan Gunung Meriah, dan Kecamatan Danau Paris) bertanggal 11 Oktober 2001.

Apa pun pertimbangannya, pelarangan mendirikan ataupun penutupan rumah ibadah agama apa pun sungguhlah langkah yang sangat menyakitkan dan melukai hati siapa pun yang mengalaminya. Padahal, kita semua tahu kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak-hak asasi yang paling mendasar dan itu semua dijamin dalam kerangka hukum nasional dan internasional.

Dalam kerangka hukum nasional dan internasional, kebebasan beragama itu dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM (Pasal 4, Ayat 2), Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan International Convention on Elimination of All Form of Racial Discrimination (CERD), Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights, dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights.
Kita juga menerima dan mengakui Deklarasi Hak Asasi Manusia Tahun 1948 yang pada Pasal 18 mengatur mengenai kebebasan beragama.

Namun, dengan demikian banyaknya kerangka hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia tidak berarti kebebasan itu akan dengan mudah didapat. Dalam banyak kasus negara (pemerintah) malah menindas hak-hak warga negaranya sendiri untuk beribadah.
 
Demikianlah yang terjadi di Kabupaten Aceh Singkil (juga di Kota Bogor, di Kota Bekasi, atau di banyak tempat lain). Alih-alih memenuhi kewajibannya melaksanakan mandat konstitusi, dan berbagai perundangan yang dibuatnya sendiri, demi memberikan pengakuan, penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak beragama itu, pemerintah yang justru melakukan diskriminasi.

Karenanya, kalau hal-hal yang melanggar konstitusi ataupun berbagai perundangan itu dibiarkan, bahkan difasilitasi pemerintah, pertanyaannya adalah: siapa lagi yang akan menjadi pengayom dan pelindung warga negara dalam melaksanakan hak-haknya? Pemerintah yang tidak mampu dan tidak mau melindungi hak-hak asasi warga negaranya, berarti pemerintah itu telah melanggar konstitusi. Kalau konstitusi dilanggar terus, kita sudah tahu ke arah mana negara ini akan menuju.

Kita sependapat dengan Wakil Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama (Wasekjen NU), Imdadun Rahmat, yang mengakui bahwa perkembangan kehidupan beragama saat ini sudah sangat memprihatinkan dan memperlihatkan kemunduran.
 
Sebagian dari kita sudah mengingkari pluralitas Indonesia dan sejarah berdirinya bangsa ini. Yang sangat terasa adalah negara makin tidak berdaya memberikan perlindungan dan rasa aman kepada warga negaranyam, khususnya dalam menjamin kebebasan beragama. Sungguh ini situasi yang sangat membahayakan.

Karenanya, kita mendesak keras agar pemerintah menunaikan tugasnya menjamin kebebasan beragama sesuai amanat konstitusi, maupun berbagai perundangan yang sudah dibuat dan disahkannya sendiri.
 
Kasus-kasus penutupan gereja seperti di Aceh Singkil harus diakhiri dan tidak boleh menjalar ke berbagai daerah lain di Indonesia. Diskriminasi adalah kekejian dan perendahan martabat sesama bangsa Indonesia.
(Sinar Harapan)

Selasa, 20 Maret 2012

TANGKAP JHONNY ALLEN!!

TANGKAP JHONNY ALLEN!!

Slogan partai bebas dari korupsi sekaligus Anti-korupsi yang selalu digembar-gemborkan Partai Demokrat itu berbunyi “GELENGKAN KEPALA dan katakan TIDAK, Abaikan RAYUANNYA dan katakan TIDAK, Tutup TELINGA dan katakan TIDAK”. Kalimat ini adalah senjata paling ampuh yang dipakai Partai Demokrat.
Kenyataannya slogan tersebut menjadi sebuah ‘BUNGKUS KEPALSUAN’ sekaligus kebohongan yang nyata dengan menjadikan rakyat Indonesia sebagai korban. Betapa tidak, sejumlah besar kasus korupsi di Indonesia ternyata melibatkan kader partai besutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini. Slogan pemberantasan korupsi serta pemerintahan yang bersih hanyalah propaganda murahan dan janji-janji tipuan belaka.
Mari kembali sejenak pada masa kampanye Pemilu 2009 lalu. Kala itu, Partai Demokrat merayu rakyat Indonesia lewat semboyan pemberantasan korupsi yang tanpa pandang bulu. Harus diakui, rayuan yang disebar-luaskan melalui media massa itu memang cukup menarik perhatian. Ini karena SBY, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, dan Angelina Sondakh turut serta membintangi iklan kampanye itu.
“GELENGKAN KEPALA DAN KATAKAN TIDAK, ABAIKAN RAYUANNYA DAN KATAKAN TIDAK, TUTUP TELINGA DAN KATAKAN TIDAK”
Slogan tersebut adalah senjata yang dipakai Demokrat untuk membuktikan betapa konsistennya partai itu memberantas korupsi. Bahkan pada penghujung iklan itu ditutup dengan kata-kata: ‘Partai Demokrat bersama SBY terus melawan korupsi tanpa pandang bulu’, menjadi kalimat penutup yang terdengar indah di telinga.
Namun, semboyan “KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI” kini menjadi bumerang bagi Partai Demokrat dan SBY sendiri. Apa lacur, sederet kader elit partai berlambang mercy itu justru terseret ke dalam derasnya pusaran korupsi. Sayangnya, meski SBY berkali-kali mengatakan tidak akan pernah pandang bulu memberantas korupsi, sepertinya pernyataan itu tidak berlaku pada kadernya sendiri. Tak heran, kini banyak kalangan menuding Partai Demokrat sebagai SARANGNYA PARA KORUPTOR.
Bungkus kepalsuan yang selama ini dikemas rapi oleh SBY dan Partai Demokrat beserta kroni-kroninya dengan politik pencitraan, kini mulai terkuak dan rakyat dapat melihat dengan mata telanjang, ternyata isi dari bungkus pencitraan tersebut hanyalah pepesan kosong alias kebohongan belaka.
Boleh dibilang, Partai Demokrat telah menjadi bunker yang paling aman untuk tempat berlindung para koruptor dari mulai kelas teri sampai kelas paus. Salah satu contoh, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Jhonny Allen Marbun yang diduga kuat terlibat berbagai kasus tindak pidana korupsi, sampai detik ini masih aman-aman saja dari jeratan hukum. Jhonny seakan mendapat perlindungan keamanan dari partainya. Betapa tidak, hingga kini KPK belum dapat menyentuh sang kader Demokrat ‘Jhonny Allen’. Padahal beberapa kasus yang melibatkan Jhonny Allen sudah cukup lama, bahkan sudah menjadi bahan pergunjingan masyarakat dan konsumsi media.
Tampaknya tingkat kesabaran masyarakat sudah sampai di ambang batasnya. Pada hari Jum’at (2/3/2012) kemarin puluhan massa pengunjuk rasa mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kedatangan mereka ini untuk mendesak KPK agar segera menangkap Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Jhonny Allen Marbun. Mereka menilai Jhonny Allen terlibat dalam dugaan korupsi di berbagai proyek pembangunan dermaga dan Pelabuhan di wilayah Indonesia Timur.
“Susahnya aparat penegak hukum menyentuh pemakan hak orang lain menimbulkan tanda tanya pada kami. Dia yang dulunya hanya mantan pekerja di kebun Binatang Ragunan Jakarta Selatan itu begitu saktinya,” tandas salah seorang orator aksi, bernama Rico, di depan gedung KPK, Jakarta (Jumat, 2/03/2012).
Tidak hanya itu saja, para pengunjuk rasa pun menuntut KPK untuk mengembangkan kasus percaloan anggaran, mark-up tanah makam di TPU Pondok Rangon Jakarta Timur senilai 10 miliar. “Untuk itu kami mendesak KPK agar segera melaksanakan amanah dengan prinsip tegakkanlah yang benar walau pun itu pahit. Kembalikan dia ke kebun binatang Ragunan!!” tuntut Rico dengan suara meledak berapi-api.
Beberapa Kasus yang Melibatkan Jhonny Allen
Jhonny Allen pernah dilaporkan ke KPK oleh seorang pria bernama Sellestinus Angelo (mantan ajudan Jhonny) atas tuduhan praktek mafia anggaran di DPR. Menurut Sellestinus, saat menjadi anggota DPR periode 2004-2009, Jhonny melakukan praktek mafia anggaran bersama anggota DPRD DKI Jakarta asal Fraksi Partai Demokrat, Monica Wilhelmina Wenas.
Sellestinus mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melaporkan dan sekaligus menyerahkan data-data valid tentang dugaan korupsi tanah kuburan sebesar Rp 10 Miliar yang dilakukan oleh Jhonny Allen Marbun. “Tadi saya sudah sampaikan data-data tersbut kepada KPK,” ungkap Sellestinus ketika dicegat oleh wartawan saat keluar dari Kantor KPK, Jakarta, pada hari Kamis (5/1/2012) yang lalu.
Perkara yang dilaporkannya ini bermula dari dugaan manipulasi rekayasa (mark-up) harga tanah kuburan di daerah Pondok Rangon Jakarta Timur yang dilakukan Jhonny Allen. Dalam hal ini, Jhonny diduga berkolusi dengan Endang Syuhada selaku Ketua Pimpinan Proyek Pembebasan Tanah Pondok Rangon dari Dinas Pemakaman Pemprov DKI.
Tanah yang dibeli Jhonny Allen itu seluas 3,5 Hektar, dengan total biaya Rp 13 miliar. Tapi dana yang disepakati oleh Dinas Pemakaman sebesar kurang lebih Rp 23 Miliar. Jadi terdapat selisih penambahan nilai (mark-up) sebesar Rp 10 miliar. Jhonny Allen diduga menyuap Endang Syuhada Sebesar Rp 550 Juta. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti berupa beberapa lembar kwitansi pembayaran.
Dari data-data yang diperlihatkan kepada wartawan, terlihat bahwa uang suap Rp 550 juta dari Jhonny Allen kepada Endang Syuhada itu dilakukan dengan cara dicicil dalam beberapa tahap. Pertama Rp 50 juta. Lalu Rp 100 juta, kemudian Rp 150 juta, dan seterusnya sampai lunas. Sellestinus sengaja membongkar dugaan korupsi ini kepada media dengan harapan agar media juga ikut mengawal kasus ini yang sudah dilaporkannya ke KPK.
Bukan hanya itu saja, sebelumnya Jhonny Allen juga dilaporkan oleh mantan ajudannya yang bernama Risco Pesiwarissa. Laporan Risco itu terkait kasus suap dana stimulus fiskal 2009 untuk pembangunan infrastruktur (dermaga dan pelabuhan udara) di Indonesia bagian Timur yang nilai proyeknya digelembungkan (mark-up) dari Rp. 10,2 triliun menjadi Rp 12,2 triliun di Kementerian Perhubungan.
Aliran uang yang diterima Jhonny Allen tersebut diberikan oleh mantan Anggota DPR Fraksi PAN, Abdul Hadi Djamal, yang sudah dijebloskan ke dalam penjara oleh KPK karena terbukti melakukan korupsi. Pada Ferbuari 2009, Abdul Hadi Djamal mengaku mendapat “commitment fee” sebesar Rp 1 miliar untuk diteruskan kepada Jhonny Allen yang kala itu menjabat sebagai Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR melalui ajudannya yang bernama Risco Pesiwarissa. Uang itu adalah sebagian dari komitmen total penyerahan uang sebesar Rp. 3 miliar. Risco mengaku bahwa dirinya yang memberikan uang Rp 1 miliar dari Abdul Hadi Djamal kepada Johnny Allen di Aston Residence, Jakarta pada 27 Februari 2009. Namun Johny berbohong, ia mengaku tak mengenal atau memiliki ajudan bernama Risco.
Jhonny Allen Marbun juga dituduh menerima sejumlah dana dari mantan bendahara umum Partai Demokrat M.Nazaruddin. Jhonny disebut-sebut menerima dana dari kasus proyek stimulus fiskal 2009 di Kementerian Perhubungan. Dari manipulasi dalam proyek tersebut Jhonny dikabarkan memperoleh kucuran dana hampir Rp400 juta.
Dalam laporan keuangan grup Permai milik M. Nazaruddin tercatat setoran ke sejumlah politikus, termasuk ke Jhonny Allen Marbun. Pada tahun 2008, PT Anugerah, yang juga perusahaan milik M.Nazaruddin, antara lain menggarap pengadaan 18 pesawat latih dan dua simulator sayap pesawat untuk Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang. Nilai proyek tersebut mencapai Rp 114,59 miliar dari empat proyek di Kementerian Perhubungan yang nilai totalnya mencapai Rp298,1 miliar. Saat itu Jhonny menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Anggaran DPR.
Tidak sampai disitu, terkait kasus dugaan korupsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Mindo Rosalina Manulang (Rosa), mantan anak buah M.Nazaruddin yang kini sudah divonis hukuman penjara, juga menuding Jhonny Allen Marbun terlibat dalam kasus Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Kemenakertrans. Rosa dalam kesaksiannya, Kamis (29/9/2011), menyebut dugaan keterlibatan dua orang anggota DPR, yaitu Emir Moeis dan Jhonny Alen Marbun dalam kasus korupsi PLTS. Tudingan Rosa itu bagi Jhonny Allen bagaikan sengatan listrik di siang bolong.
Dari sejumlah kasus yang melibatkan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Jhonny Allen, tentu merupakan tamparan keras di wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selalu sesumbar menyatakan akan berjihad menghunuskan pedang untuk melawan korupsi.
Slogan PD: “KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI!!.. GELENGKAN KEPALA DAN KATAKAN TIDAK, ABAIKAN RAYUANNYA DAN KATAKAN TIDAK, TUTUP TELINGA DAN KATAKAN TIDAK”
Kini hal yang menjadi pertanyaan publik, akankah Jhonny Allen lolos dari jeratan hukum? Akankah KPK yang ibarat kucing seharusnya ditakuti oleh tikus, namun justru malah ketakutan oleh tikus yang diburunya sendiri?

Minggu, 11 Maret 2012

Inilah Jejak Hidup Manusia Terkaya se-Jagad Raya

REPUBLIKA.CO.ID,  Citra Amerika Latin yang kerap dekat dengan kemiskinan seolah didobrak Carlos Slim Helu. Betapa tidak, bila ternyata dialah orang terkaya pertama di dunia, di atas Bill Gates dan Waren Buffet. Carlos kaya dari hasrat orang berhubungan dan bicara dengan sesamanya. Dari telekomunikasilah, hingga saat ini Carlos telah mengumpulkan sedikitnya 69 miliar dolar AS sebagai kekayaannya. Dialah juga yang mengendalikan tiga perusahaan telekomunikasi besar, yakni Telefonos de Mexico (Telmex), Telcel dan Am‚rica M¢vil.

Ketangguhan Slim dalam berbisnis banyak dipengaruhi sang ayah, Yusef Salim Haddad. Benar, Carlos yang lahir di Mexico City, 28 Januari 1940 itu adalah putra seorang Timur Tengah. Lebanon tepatnya. Yusef yang merupakan seorang Kristen Lebanon sendiri datang ke Mexico pada 1902, setelah melarikan diri dari negaranya.
Sang ayah inilah yang membangun toko barang kebutuhan, yang diberinya nama La Estrella del Oriente (Bintang Timur). Suatu hari, dia berspekulasi membeli beberapa real estat utama di pusat kota. Pilihan Yusef yang tepat itu segera mengubah kehidupan ekonomi keluarganya.
"Dia mengajarkan keberanian. Dia ajarkan, tak peduli seberapa jelek krisis yang terjadi, Meksiko tidak akan hilang. Bila saya mempercayai negara ini, investasi yang cermat akhirnya akan membayar,'' ujar Carlos, memuji sang ayah. Sayang, pada tahun 1952, Yusef meninggal.

Carlos yang menyandang gelar insinyur teknik sipil dari National Autonomous University of Mexico pada 1961 itu sempat juga mengajar Aljabar dan Linear Programming. Selain itu, dia juga sempat mengajar di lembaga internasional, Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC).
Carlos ternyata seberani sang ayah. Pada tahun 1990 dia membeli Telmex dari pemerintah, dengan menggandeng Southwestern Bell Corp dan France Telecom. Saat itu kondisi Telmex sangat morat-marit. Tanpa gentar, Carlos mengubah perusahaan yang merugi itu menjadi pencetak uang. Sempat ia dikritik telah menaikan tarif telepon di negaranya. Namun, dengan tekad bulat untuk memperbaiki pelayanan telepon di Mexico, berupa tawaran sambungan lokal, interlokal, selular, internet dan direktori telepon, akhirnya kerja kerasnya berbuah manis.

Kerajaan telekomunikasinya mampu mencapai penjualan tahunan hingga 16 miliar dolar AS. Kini Telmex menjelma perusahaan telekomunikasi terbesar di Mexico. Tak hanya itu, baru-baru ini Telmex American tercatat sebagai salah satu perusahaan disegani di New York Stock Exchange. Kerajaan bisnis Carlos terus berkembang. Ia pula pemilik Prodigy Inc -- perusahaan jasa internet ketiga di AS. Tak hanya itu, Carlos pun kini mengendalikan perusahaan keuangan Grupo Financiero Inbursa, dan industri retail, Grupo Carso.
Di AS, Februari 2006 lalu Carlos mengincar CompUSA. Lewat perusahaannya, Grupo Sanborns, Carlos menawar CompUSA 800 juta dolar AS. Ia juga tercatat sebagai anggota komisaris Philip Morris dan SBC. Jabatan Presiden New York Stock Exchange juga pernah diembannya.

Sederet penghargaan mancanegara pernah diraih Carlos. Selain Merit Medal of Honor dari Kadin Mexico, ia juga sempat dianugerahi Golden Plate Award oleh American Academy of Achievement, serta Leopold II Commander Medal dari Pemerintah Belgia.
Taipan asal Meksiko itu selama tiga tahun berturut-turut kembali menduduki peringkat pertama orang kaya di dunia versi Forbes, dengan jumlah kekayaan sebesar 69 miliar dolar Amerika dari bisnis utamanya di bidang telekomunikasi.

Meskipun kekayaannya turun dibandingkan tahun lalu -- yang diperkirakan Forbes bisa mencapai 74 miliar dolar Amerika -- kekayaan yang dimiliki Slim jauh berada di atas pendiri Microsoft yang diperkirakan memiliki kekayaan 7 miliar dolar Amerika pada tahun ini. Merosotnya harta Slim tak lepas dari penurun ekonomi dan devaluasi mata uang Peso.
Slim yang saat ini berusia 72 tahun merupakan warga Meksiko keturunan Lebanon. Dia memulai karir bisnisnya pada usia 10 tahun dengan menjual permen dan minuman kepada keluarganya dan di kemudian hari mengukir namanya dengan investasi nan agresif selama krisis.